TAKAWA.ID – Di balik popularitasnya sebagai "ikan pembersih" di akuarium, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) ternyata menyimpan ancaman besar bagi ekosistem perairan tawar di Indonesia. Pemerintah secara resmi telah memasukkan ikan ini ke dalam daftar spesies yang dilarang. Lantas, apa yang membuat ikan asal Amerika Selatan (Sungai Amazon) ini begitu berbahaya bagi lingkungan kita?

Berikut adalah rangkuman fakta dan data mengapa ikan sapu-sapu harus diberantas dari perairan bebas.

Status Hukum: Masuk Daftar Hitam Pemerintah

Bukan tanpa alasan ikan ini diawasi ketat. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 19 Tahun 2020, ikan sapu-sapu termasuk dalam lebih dari 150 jenis spesies ikan yang dilarang untuk dimasukkan, dikembangbiakkan, diedarkan, maupun dikeluarkan di wilayah Indonesia. Hal ini dikarenakan sifatnya yang invasif dan berpotensi merusak keanekaragaman hayati lokal.

Predator Tanpa Lawan

Meskipun tidak terlihat seperti hiu yang mengejar mangsa, ikan sapu-sapu adalah "predator pasif" yang mematikan bagi populasi ikan asli Indonesia.

  • Memakan Telur Ikan: Mereka sering mengonsumsi telur ikan lain yang menempel di dasar sungai atau bebatuan.

  • Dominasi Habitat: Dengan kulit yang keras seperti baju zirah dan duri tajam, ikan ini tidak memiliki predator alami di Indonesia. Akibatnya, populasi mereka meledak dan menggeser keberadaan ikan lokal seperti ikan tawes, nilem, dan gabus.

Merusak Konstruksi Sungai dan Memicu Erosi

Ikan sapu-sapu memiliki perilaku unik dalam berkembang biak, yaitu dengan menggali lubang di dinding atau bantaran sungai.

  • Data Lapangan: Lubang yang dibuat bisa mencapai kedalaman lebih dari 50 cm.

  • Dampak: Kumpulan lubang ini membuat struktur tanah di pinggiran sungai menjadi rapuh, memicu pendangkalan (sedimentasi), hingga mempercepat risiko longsor di sepanjang aliran sungai.

Kerugian Ekonomi Bagi Nelayan Tradisional

Sektor perikanan tangkap di perairan darat menjadi pihak yang paling terdampak. Di beberapa wilayah seperti di perairan Jakarta, nelayan melaporkan bahwa lebih dari 70% isi jaring mereka hanyalah ikan sapu-sapu yang tidak laku dijual.

  • Kerusakan Alat: Kulitnya yang kasar dan berduri sering membuat jaring nelayan robek, yang berarti menambah beban biaya operasional mereka.

  • Penurunan Tangkapan: Semakin tinggi populasi sapu-sapu, semakin rendah jumlah ikan konsumsi yang bisa dipanen.

Bahaya Akumulasi Logam Berat

Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa di perairan buruk. Mereka dapat bertahan hidup di sungai yang sangat tercemar oleh limbah industri maupun domestik.

  • Penyaring Polutan: Ikan ini menyerap zat kimia berbahaya seperti Merkuri (Hg) dan Timbal (Pb) ke dalam jaringan dagingnya.

  • Risiko Kesehatan: Mengonsumsi ikan sapu-sapu yang diambil dari perairan tercemar sangat berbahaya bagi manusia karena dapat menyebabkan kerusakan saraf dan organ dalam dalam jangka panjang.

Dibalik dampak buruk, ikan sapu-sapu memiliki fungsi rantai transfer energi dan materi. Dilansir dari kompas.com, peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) - BRIN, Triyanto, menegaskan bahwa ikan ini bertindak sebagai akumulator polutan berbahaya.

"Secara harfiah, semua makhluk hidup ini memiliki fungsinya. Dia ada bagian dari transfer energi atau transfer materi. Ikan sapu-sapu ini mampu memanfaatkan organik-organik dan bahan pencemar tersebut. Ini bagian dari mengurangi sumber materi pencemar," jelas Triyanto (Kompas.com, 21/4/2026).

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dihimbau untuk tidak melepaskan spesies asing ke perairan umum. Menjaga keseimbangan ekosistem adalah tanggung jawab bersama agar keberlanjutan sumber daya ikan asli Indonesia tetap terjaga untuk generasi mendatang.