JAKARTA, TAKAWA.ID - Hantavirus kembali menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di berbagai platform digital. Menanggapi hal tersebut, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat agar memahami hantavirus secara tepat, mulai dari sumber penularan, gejala klinis, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar. Sejumlah spesies tikus diketahui dapat menjadi reservoir virus ini, seperti tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar yang hidup di kawasan permukiman, pertanian, maupun hutan.

Salah satu jenis hantavirus yang banyak diperbincangkan saat ini adalah Andes virus, yang ditemukan pada tikus liar Oligoryzomys longicaudatus, spesies yang umum dijumpai di kawasan Patagonia, Argentina, dan Chile. Virus tersebut diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu infeksi paru berat yang berisiko memicu gagal napas akut.

“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” kata Ristiyanto dalam keterangan tertulis, Minggu (10/5/2026).

Menurut Ristiyanto, gejala awal infeksi hantavirus kerap menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, tubuh lemas, hingga gangguan pencernaan. Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis dini sering kali terlambat dilakukan. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius yang membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit.

Ia menyebut tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni berkisar 20–35 persen. Karena itu, kewaspadaan terhadap paparan rodensia dan deteksi dini menjadi faktor penting dalam mencegah risiko infeksi.

Meski demikian, Ristiyanto menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus. Berdasarkan hasil riset vektor dan reservoir penyakit periode 2015–2018, virus tersebut juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik yang diteliti di Indonesia. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat tingginya keanekaragaman rodensia, kepadatan penduduk, serta kondisi lingkungan yang dapat mendukung perkembangan populasi tikus.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono mengingatkan masyarakat agar memahami informasi mengenai Andes virus secara proporsional. Meski terdapat laporan ilmiah tentang kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dibanding penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, atau COVID-19.

“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” ujar Arief.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa temuan kasus pada pasangan intim tidak serta-merta menjadikan Andes virus sebagai penyakit menular seksual. Menurutnya, penularan lebih mungkin terjadi akibat kontak fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut penyakit.

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan. Risiko meningkat terutama pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan di wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi. Area tersebut sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.