TEHEREAN, TAKAWA.ID - Konflik bersenjata yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus memanas sejak pecah pada akhir Februari 2026. Eskalasi terbaru menunjukkan peningkatan serangan militer, ancaman terbuka antarnegara, serta dampak yang mulai meluas ke kawasan Timur Tengah dan ekonomi global.

Perang ini bermula pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai target di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk. Serangan tersebut turut menyasar wilayah seperti Bahrain, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab, menandai meluasnya konflik ke tingkat regional.

Dalam perkembangan terbaru, Iran mengklaim telah menyerang kapal yang terkait dengan Israel di Selat Hormuz menggunakan drone, yang menyebabkan kebakaran pada kapal tersebut. Insiden ini meningkatkan ketegangan di jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak global.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ia juga mengancam akan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur vital Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Iran merespons dengan pernyataan keras. Seorang pejabat militer tinggi memperingatkan bahwa negaranya siap menyerang kepentingan Amerika Serikat dan Israel jika eskalasi berlanjut.

Selain serangan langsung, konflik ini juga berdampak pada fasilitas energi. Serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran menyebabkan gangguan produksi gas dan memicu lonjakan harga energi global.

Secara keseluruhan, perang Iran 2026 telah menyebabkan ribuan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta meningkatkan risiko konflik berskala lebih luas di Timur Tengah. Sejumlah pihak internasional kini menyerukan deeskalasi untuk mencegah krisis global yang lebih besar.

Situasi terkini menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari mereda, dengan kedua belah pihak terus meningkatkan tekanan militer dan politik di kawasan.