TAKAWA.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja mengakhiri kunjungan kenegaraan tiga hari di Beijing, Cina, yang berlangsung pada 13–15 Mei 2026. Lawatan ini mencetak sejarah sebagai kunjungan pertama seorang presiden AS yang masih menjabat ke Negeri Tirai Bambu dalam kurun waktu hampir sembilan tahun terakhir, sejak kunjungan Trump sendiri pada periode pertamanya di tahun 2017.

Pertemuan puncak (summit) dengan Presiden Cina Xi Jinping ini terjadi di tengah situasi global yang sangat peka, terutama dipicu oleh eskalasi perang di Timur Tengah (konflik AS-Israel dengan Iran) serta lonjakan inflasi global. Meski berada dalam situasi domestik dan internasional yang menantang, kedua pemimpin sepakat mendorong hubungan bilateral yang lebih pragmatis dan fokus pada sektor bisnis (business-first relationship).

Penyambutan Megah di Great Hall of the People

Rangkaian agenda resmi dimulai pada Kamis (14/5/2026) pagi di Great Hall of the People, Beijing. Presiden Xi Jinping menyambut Trump dengan upacara militer penuh, korps musik, serta ratusan pemuda Cina yang mengibarkan bendera kedua negara.

Dalam pidato pembukanya, Presiden Xi menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama mengemudikan "kapal besar hubungan AS-Cina" demi menjadikan tahun 2026 sebagai tonggak sejarah baru. Sementara itu, Trump mengungkapkan rasa hormatnya dan menyebut hubungannya dengan Xi akan menjadi "lebih baik dari sebelumnya."

4 Poin yang Menjadi Fokus Pembahasan

1. Geopolitik Global & Perang Iran

Di tengah konflik bersenjata yang melibatkan AS di Timur Tengah, Trump memanfaatkan pertemuan ini untuk memastikan sikap Cina. Di akhir kunjungannya, Trump menyatakan bahwa kedua pemimpin sepakat tidak ingin melihat Iran memiliki senjata nuklir dan sama-sama mendesak agar Selat Hormuz tetap dibuka untuk jalur perdagangan dunia.

2. Isu Sensitif Taiwan

Masalah Taiwan tetap menjadi kerikil paling tajam dalam hubungan kedua negara. Sebelum kedatangan Trump, media pemerintah Cina People's Daily menegaskan bahwa Taiwan adalah "garis merah pertama yang tidak boleh dilanggar."

Trump membawa isu paket persenjataan senilai $11 miliar untuk Taiwan yang disetujui AS pada Desember lalu namun belum direalisasikan. Di sisi lain, mengingat posisi Taiwan sebagai produsen cip utama dunia yang krusial bagi industri Artificial Intelligence (AI) AS, Trump tampak menunjukkan pendekatan yang lebih fleksibel demi mengamankan rantai pasok teknologi.

3. Perdagangan, Tarif, dan Ekonomi

Pertemuan ini terjadi tepat enam bulan setelah kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata (jeda) perang tarif selama satu tahun pada KTT APEC di Korea Selatan. Melalui media sosialnya, Trump menegaskan tujuannya untuk meminta Presiden Xi lebih membuka pasar Cina bagi perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.

4. Regulasi Kecerdasan Buatan (AI)

Selain ekonomi konvensional, kedua negara mulai merumuskan langkah dan aturan pengamanan bersama terkait perkembangan teknologi AI. Langkah ini diambil untuk mencegah penyalahgunaan teknologi mutakhir yang dapat mengancam keamanan siber global.

Delegasi Bisnis Kelas Kakap: Dari Elon Musk hingga Jensen Huang

Salah satu hal yang paling menyita perhatian publik adalah daftar rombongan taipan teknologi yang dibawa oleh Trump. Delegasi bisnis AS kali ini dinilai sebagai salah satu yang paling kuat dalam sejarah, di antaranya:

  • Elon Musk (CEO Tesla & SpaceX)

  • Tim Cook (CEO Apple)

  • Jensen Huang (CEO Nvidia) — kehadiran Huang sempat viral di platform pemantau penerbangan karena dilaporkan ikut naik ke Air Force One secara mendadak saat transit pengisian bahan bakar di Anchorage.

  • Kelly Ortberg (CEO Boeing)

  • David Solomon (CEO Goldman Sachs)

Kehadiran para bos teknologi ini menegaskan sinyal kuat dari Washington bahwa AS ingin mempertahankan dominasi industri tinggi sekaligus menjaga stabilitas bisnis dengan pasar terbesar kedua di dunia tersebut.

Diplomasi Santai di Zhongnanhai dan Kuil Langit

Selain rapat formal yang melelahkan, diplomasi juga dilakukan dalam suasana informal. Pada Kamis sore, Xi Jinping mengajak Trump mengunjungi Kuil Langit (Temple of Heaven) yang bersejarah, dilanjutkan dengan jamuan makan malam kenegaraan.

Pada hari Jumat (15/5/2026), sebelum Trump bertolak kembali ke Washington, Xi menjamu Trump dalam sesi minum teh bilateral secara personal di Istana Zhongnanhai, sebuah kompleks istana yang menjadi kediaman para pemimpin tertinggi Cina.