JAKARTA, TAKAWA.ID - Pemerintah bersama DPR RI menetapkan postur APBN dengan nilai untuk pertama kalinya menembus Rp4.000 triliun. Meski belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun, pemerintah tetap menjaga target defisit pada level 2,4 persen atau sekitar Rp671,2 triliun.
Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun mengatakan, besarnya anggaran yang disertai dengan defisit yang tetap terjaga menjadi pesan penting bagi pasar. Menurut dia, target tersebut menunjukkan adanya optimisme pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Apalagi kemudian dipatok defisit kita hanya sekitar 2,4 persen. Artinya apa? Targetnya tinggi, kemudian defisitnya sekitar Rp671,2 triliun. Tentunya target ini adalah sebuah pesan yang kuat kepada pasar untuk sama-sama kita optimis membangun optimisme secara bersama-sama,” ujar Misbakhun usai Rapat Paripurna di Selasar Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Misbakhun menyebut, APBN sebesar Rp4.097,2 triliun menjadi catatan baru karena untuk pertama kalinya anggaran negara melampaui Rp4.000 triliun. Selain itu, pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi untuk keluar dari zona 5 persen.
“APBN kita total Rp4.097,2 triliun dan defisitnya Rp671,2 triliun. Pertama kalinya APBN kita melewati angka Rp4.000 triliun dan pertama kali juga kita menargetkan pertumbuhan keluar dari zona 5 persen,” katanya.
Ia menjelaskan, penerimaan negara akan bersumber dari sejumlah komponen utama, yakni penerimaan perpajakan, kepabeanan, cukai, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Selisih antara penerimaan negara dan belanja kemudian menjadi defisit yang akan ditutup melalui pembiayaan sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan dalam APBN.
“Penerimaan negara berasal dari penerimaan pajak, penerimaan kepabeanan, penerimaan cukai, serta penerimaan negara bukan pajak. Selisihnya menjadi defisit yang dibiayai sesuai mekanisme APBN,” jelas politikus Fraksi Partai Golkar tersebut.
Dengan postur tersebut, pemerintah dan DPR berharap APBN dapat menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan di tengah target pembangunan yang semakin besar.













