BUTON, TAKAWA.ID - Pemerintah Kabupaten Buton bersama TNI-Polri dan sejumlah tokoh masyarakat bergerak mencari jalan keluar atas persoalan yang melibatkan kelompok pemuda Kelurahan Takimpo dan Kelurahan Kombeli, Kecamatan Pasarwajo.
Upaya meredam konflik tersebut dibahas dalam rapat bersama yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Buton, Senin (21/9/2026). Pertemuan ini menjadi salah satu langkah untuk mencegah bentrokan kembali terjadi sekaligus memulihkan kondisi keamanan di wilayah perbatasan kedua kelurahan.
Rapat tersebut dihadiri Sekda Kabupaten Buton La Ode Syamsudin, S.Pd., M.Pd., yang mewakili Bupati Buton, Kapolres Buton AKBP Ali Rais Ndraha, S.H., S.I.K., M.M.Tr., Wakapolres Buton Kompol Yulianus, S.Si., perwakilan Danramil 1413-02 Pasarwajo, jajaran Pemkab Buton dan PJU Polres Buton.
Tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama dari Kelurahan Takimpo dan Kelurahan Kombeli juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Sekda Buton La Ode Syamsudin mengatakan persoalan yang terjadi tidak cukup diselesaikan hanya melalui pendekatan keamanan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat agar perdamaian dapat terjaga dalam jangka panjang.
“Pertemuan ini menjadi upaya bersama untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi serta memulihkan kondisi sosial dan keamanan setelah terjadinya bentrokan antar kelompok pemuda,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai adat dan kearifan lokal harus kembali diperkuat sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan sosial masyarakat. Ia mencontohkan falsafah “Koemani” yang mengandung makna kemampuan membatasi dan mengenal diri serta menanamkan nilai-nilai kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Pemkab Buton kemudian mendorong agar proses rekonsiliasi dilanjutkan dengan ikrar perdamaian yang melibatkan perwakilan pemuda dari kedua kelurahan serta tokoh adat masing-masing wilayah.
Langkah tersebut diharapkan menjadi komitmen bersama untuk menghentikan konflik dan mencegah munculnya kembali aksi saling serang.
Diduga Berawal dari Saling Ejek di Media Sosial
Perwakilan Kelurahan Kombeli, La Juara, mengungkapkan bahwa upaya menenangkan para pemuda sebenarnya telah dilakukan sebelumnya.
Pertemuan digelar di rumah adat atau baruga Kelurahan Kombeli dengan melibatkan tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama. Dalam pertemuan tersebut, para pemuda diberikan nasihat agar tidak kembali melakukan tindakan yang dapat memicu keributan.
La Juara menyebut persoalan di wilayah perbatasan Takimpo-Kombeli diduga bermula dari aksi saling ejek melalui media sosial.
Persoalan yang awalnya terjadi di ruang digital kemudian berkembang ke dunia nyata dan berdampak terhadap masyarakat. Bahkan, sejumlah fasilitas umum dan rumah warga mengalami kerusakan akibat aksi pelemparan.
Perwakilan Kelurahan Takimpo, Ruslan, S.Pd., menegaskan bahwa hubungan masyarakat Takimpo dan Kombeli pada dasarnya telah terjalin baik sejak dahulu.
Menurutnya, kedua masyarakat memiliki sejarah kebersamaan dan hubungan yang harmonis. Namun, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah persoalan yang melibatkan kelompok pemuda mulai muncul.
Ia berharap pertemuan yang melibatkan pemerintah, aparat keamanan serta tokoh masyarakat tersebut dapat menghasilkan solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan.
Dengan begitu, konflik tidak kembali terjadi dan masyarakat kedua wilayah tidak menjadi pihak yang paling dirugikan.
Kapolres Buton Minta Semua Pihak Kendalikan Emosi
Kapolres Buton AKBP Ali Rais Ndraha meminta seluruh pihak menahan diri. Ia mengingatkan bahwa penyelesaian konflik membutuhkan keterlibatan orang tua, tokoh masyarakat dan seluruh elemen yang memiliki pengaruh terhadap para pemuda.
“Semua elemen masyarakat, pemerintah dan para tokoh harus memberikan kontrol sosial serta pemahaman secara berkelanjutan kepada kedua belah pihak dalam rangka menjaga harkamtibmas,” kata Kapolres.
Kapolres mendorong agar penyelesaian dilakukan secara formal dan kekeluargaan. Deklarasi atau ikrar perdamaian dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kedua kelompok pemuda mengakhiri persoalan.
Ia juga mengingatkan agar konflik tidak dibiarkan berlarut karena berpotensi kembali menimbulkan kerusakan fasilitas umum maupun permukiman warga.
Dalam penanganan persoalan tersebut, Kapolres memastikan jajaran Polres Buton tetap bekerja secara profesional dan tidak berpihak kepada salah satu kelompok.
“Polres Buton tidak memihak kepada salah satu kelompok masyarakat. Kami tetap profesional, menjaga netralitas dan menegakkan hukum yang berlaku,” tegasnya.
Sementara proses perdamaian berjalan, Polres Buton bersama personel Koramil 1413-02 Pasarwajo tetap meningkatkan kesiapsiagaan di kawasan perbatasan Takimpo dan Kombeli.
Pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan keamanan sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Selain itu, pemerintah daerah bersama unsur terkait juga terus mengoordinasikan rencana pembentukan pos pengamanan terpadu di wilayah perbatasan kedua kelurahan.
Pos tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga situasi tetap terkendali sekaligus memperkuat koordinasi antara aparat dan masyarakat.
Rangkaian penyelesaian konflik selanjutnya diarahkan pada pembacaan ikrar perdamaian oleh perwakilan pemuda Takimpo dan Kombeli di hadapan Pemerintah Kabupaten Buton, Forkopimda, unsur terkait serta tokoh kedua wilayah.
Polres Buton bersama Polsek jajaran juga terus melakukan monitoring, standby pengamanan dan langkah pemulihan keamanan pascakejadian.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan wilayah Kecamatan Pasarwajo kembali kondusif dan hubungan masyarakat Takimpo-Kombeli dapat dipulihkan.


















