JAKARTA, TAKAWA.ID - Tim produksi film kolosal berjudul “Dayak” menyambangi dan beraudiensi dengan Kementerian Kebudayaan dalam rangka membahas rencana produksi film layar lebar berlatar budaya Dayak di Kantor Kemenbud, Jakarta, Senin (25/5/2026). Film tersebut dirancang untuk mengangkat sejarah, keberagaman, serta nilai perdamaian masyarakat Dayak melalui medium perfilman.
Ketua Tim Produksi Film “Dayak” Thoeseng TT Asang, menjelaskan bahwa film ini merupakan bagian dari upaya revitalisasi budaya Dayak sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan keberagaman masyarakat Dayak kepada khalayak yang lebih luas.
Menurutnya, film tersebut juga akan mengangkat sejarah perdamaian masyarakat Dayak melalui Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894, sebuah momentum penting dalam sejarah masyarakat Dayak.
“Melalui film ini kami ingin menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya Dayak dengan semangat ‘Karya untuk Negeri, Dayak untuk Indonesia’,” ujar Thoeseng.
Sementara itu, Penanggung Jawab sekaligus Produser Eksekutif film, Abriantinus, menyampaikan bahwa tim produksi telah melakukan penelitian sejak tahun 2021 dengan melibatkan berbagai tokoh adat dan masyarakat Dayak di Kalimantan. Ia menjelaskan bahwa film ini akan mengangkat perjalanan sejarah Dayak secara garis besar melalui pendekatan film panjang yang memadukan unsur sejarah dan fiksi.
Sutradara film “Dayak”, Ivan Baghito, menilai penyampaian budaya Dayak melalui layar lebar memiliki potensi besar dalam memperkuat literasi budaya sekaligus menjadi arsip budaya bernilai tinggi bagi generasi mendatang.
“Film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga dapat memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai budaya Dayak secara komprehensif,” ujar Ivan.
Menanggapi paparan tersebut, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pengangkatan budaya Dayak melalui film. Menurutnya, budaya Dayak merupakan bagian penting dari kekayaan budaya nasional yang memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal yang kuat.
“Kami tentu mendukung berbagai upaya yang dapat memajukan kebudayaan nasional, termasuk budaya Dayak yang sangat kaya dan menarik untuk diangkat melalui film. Kehadiran film berlatar budaya sangat penting untuk memperkuat identitas Kebudayaan Indonesia,” ujar Fadli Zon.
Menbud juga menekankan pentingnya penguatan skenario agar film memiliki daya tarik kuat sebagai film komersial sekaligus mampu diterima masyarakat luas.
“Film komersial memerlukan skenario yang kuat dan menarik agar mampu menjangkau penonton secara luas. Saya berharap film ini dapat memperoleh apresiasi tinggi serta menjadi sarana edukasi budaya bagi masyarakat dan generasi muda,” tambahnya.
Turut hadir dalam audiensi tersebut Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri; Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati; Direktur Film, Musik, dan Seni, Irini Dewi Wanti; serta jajaran Tim Produksi film “Dayak”.

















