JAKARTA, TAKAWA.ID - Pemerintah optimistis industri perhiasan dalam negeri tetap memiliki prospek cerah di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi logam mulia akibat tren kenaikan harga emas sepanjang 2025. Kondisi tersebut dinilai tidak mengganggu keberlangsungan industri manufaktur nasional, khususnya sektor perhiasan yang masih menopang penyerapan tenaga kerja.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, lonjakan harga emas batangan memang mendorong masyarakat untuk melirik logam mulia sebagai instrumen investasi. Namun demikian, perhiasan tetap memiliki nilai tambah karena tidak hanya berfungsi sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai produk fesyen dan koleksi.
“Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun, jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata karena memiliki dua fungsi yaitu sebagai investasi dan aksesori yang bisa dipakai dan dikoleksi,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (29/5).
Menurut Menperin, data World Gold Council menunjukkan permintaan emas batangan dunia terus meningkat hingga mencapai 1.402 ton pada 2025 atau naik 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.208 ton. Sementara itu, konsumsi perhiasan emas di Indonesia tercatat menurun 27 persen, dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.
Meski demikian, pemerintah meyakini kondisi tersebut tidak melemahkan industri perhiasan nasional. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan mayoritas pelaku industri kecil dan menengah (IKM) perhiasan memilih tetap fokus memproduksi perhiasan dibandingkan beralih ke bisnis logam mulia.
Berdasarkan data BPS dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang dihimpun Direktorat Industri Aneka Ditjen IKMA, terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia, terdiri atas 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil. Sektor ini juga tercatat mampu menyerap sebanyak 21.116 tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia.
Selain itu, kinerja ekspor industri perhiasan nasional juga dinilai tetap menjanjikan. Berdasarkan laporan Trademap.org, sebanyak 83,96 persen produk utama ekspor industri perhiasan Indonesia berupa barang perhiasan dan bagian-bagiannya dari logam mulia selain perak, dengan nilai mencapai USD7,64 miliar.
Reni menambahkan, daya saing industri perhiasan Indonesia terletak pada kreativitas desain dan kuatnya identitas budaya lokal yang menjadi daya tarik tersendiri di pasar global. Pelaku industri juga dinilai memiliki fleksibilitas untuk berinovasi menggunakan berbagai material, mulai dari emas, perak, hingga mineral lain sesuai kondisi pasar dan kemampuan pembelian bahan baku.













