TAKAWA.ID - Rencana pembangunan masjid pertama di Kota Fujisawa, Jepang, memicu beragam tanggapan dari masyarakat setempat. Sebagian warga mengaku masih menyimpan kekhawatiran terhadap perubahan yang mungkin terjadi di lingkungan mereka, sementara yang lain menilai dialog menjadi langkah penting untuk membangun saling pengertian.
Fujisawa merupakan kota yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Tokyo. Kehadiran masjid pertama di kota tersebut menjadi perhatian warga di tengah meningkatnya jumlah komunitas Muslim di Jepang.
Salah seorang warga Fujisawa, Noriko Izumizawa, mengaku khawatir dengan dampak sosial yang mungkin muncul setelah masjid berdiri.
"Saya khawatir bagaimana komunitas kami mungkin akan berubah," ujar Izumizawa, seperti dikutip dari BBC.com, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, jumlah umat Islam di Jepang terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja asing untuk mengatasi krisis kekurangan pekerja akibat populasi yang terus menurun dan menua.
Izumizawa juga menilai perdebatan mengenai isu imigrasi yang berkembang di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa turut memengaruhi kekhawatirannya terhadap perubahan yang dapat terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.
Sementara itu, Hiroki Suzuka, pemilik kedai kopi yang berada di seberang lokasi pembangunan masjid, menilai masyarakat perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka sebelum menarik kesimpulan.
"Saya tidak menolak, tapi saya juga tidak bisa bilang bahwa saya mendukungnya," kata Suzuka.
Ia mengatakan masyarakat perlu mengenal lebih jauh tentang Islam dan komunitas Muslim agar tidak muncul kesalahpahaman.
"Saya pikir langkah pertama adalah mempelajari tentang apa itu Islam, orang seperti apa mereka, serta nilai dan sudut pandang yang mereka miliki. Semuanya dimulai dengan pikiran yang terbuka dan keinginan untuk saling memahami," ujarnya.
Rencana pembangunan masjid di Fujisawa pun menjadi gambaran tantangan yang dihadapi Jepang dalam menjaga harmoni sosial di tengah meningkatnya keberagaman masyarakat akibat bertambahnya jumlah pekerja asing.













