JAKARTA, TAKAWA.ID - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) bersama aliansi Cipayung Plus dan berbagai organisasi kepemudaan menggelar aksi di depan Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Senin (04/05/2026). Aksi ini menjadi cerminan kegelisahan mahasiswa terhadap sejumlah persoalan mendasar dalam sistem pendidikan nasional.

Dalam orasinya, massa aksi menyampaikan berbagai tuntutan, mulai dari evaluasi penyaluran dana bantuan pendidikan agar lebih transparan dan tepat sasaran, hingga pemerataan akses pendidikan berkualitas di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Selain itu, isu komersialisasi pendidikan turut menjadi sorotan utama, yang dinilai berpotensi menggerus hak masyarakat terhadap pendidikan yang terjangkau.

Tak hanya itu, mahasiswa juga mengangkat persoalan serius lain seperti maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus, rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik, serta pentingnya menjaga independensi ruang akademik dari berbagai kepentingan eksternal.

Pihak Kemdiktisaintek mengapresiasi aksi yang berlangsung tertib tersebut sebagai bentuk partisipasi aktif mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, turun langsung menemui massa aksi untuk mendengarkan tuntutan secara terbuka.

Dalam dialog tersebut, Fauzan menegaskan bahwa aspirasi mahasiswa merupakan bagian penting dalam upaya pembenahan sektor pendidikan tinggi. Ia juga menyoroti komitmen pemerintah dalam menangani kasus kekerasan seksual yang dinilai bertentangan dengan nilai moral bangsa.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk dialog. Mahasiswa harus tetap menjadi agen perubahan dalam perjalanan pendidikan tinggi,” ujar Fauzan di hadapan peserta aksi.

Lebih lanjut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat sektor pendidikan sejalan dengan visi pembangunan nasional, termasuk peningkatan akses dan kualitas pendidikan secara merata, khususnya di wilayah 3T.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, juga menekankan pentingnya kebijakan pendidikan yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Kemdiktisaintek menyatakan akan terus mendorong kolaborasi dengan berbagai elemen, termasuk mahasiswa, guna mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang adil, inklusif, dan berintegritas. Dialog terbuka dan partisipasi konstruktif dinilai menjadi kunci dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan nasional ke depan.