BUTON, TAKAWA.ID - Wakil Bupati Buton Syarifudin Saafa mengajak generasi Z dan Alpha untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era digital.

Pesan tersebut disampaikan Syarifudin Saafa saat menghadiri sekaligus menyampaikan tausiyah dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Tarbiyah, SMA Negeri 1 Pasarwajo, Kelurahan Pasarwajo, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Selasa (25/8/2026), pukul 08.30 WITA.

Mengangkat tema “Gen Z & Alpha Butuh Muhammad SAW”, tausiyah tersebut diikuti para siswa-siswi serta guru SMA Negeri 1 Pasarwajo.

Di hadapan para pelajar, Syarifudin mengatakan generasi muda saat ini hidup di tengah derasnya arus informasi dan budaya digital. Media sosial membuat anak muda begitu mudah menemukan figur yang dijadikan panutan, mulai dari influencer hingga tokoh publik.

Namun, menurutnya, ada sosok yang pengaruh dan keteladanannya melampaui zaman, yakni Nabi Muhammad SAW.

“Siapa orang yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah manusia? Orang yang pengikutnya bukan hanya jutaan, tetapi miliaran dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Dialah sang idola, Muhammad SAW,” ujar Syarifudin dalam tausiyahnya.

Ia kemudian mengaitkan keteladanan Rasulullah SAW dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan pelajar, mulai dari tekanan akademik, pertemanan, media sosial, kesehatan mental, hingga persoalan cinta di usia remaja.

Salah satu pesan yang disampaikan adalah pentingnya memiliki cara yang sehat dalam menghadapi tekanan dan rasa cemas. Syarifudin mengingatkan para siswa bahwa Rasulullah SAW juga pernah mengambil waktu untuk menenangkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui tahannuts di Gua Hira.

Menurutnya, ketika menghadapi tekanan, generasi muda tidak seharusnya mencari pelarian melalui hal-hal yang justru merusak diri.

“Kalau kalian merasa mental lelah dan overthinking, jangan lari ke hal yang merusak. Tarik napas, ambil wudhu, shalat, dan curhatlah kepada Allah. Ketenangan sejati bukan dari likes di Instagram, tetapi dari mengingat Allah,” pesannya.

Selain persoalan kesehatan mental, Syarifudin juga mengajak siswa memiliki mental kuat dalam menghadapi perundungan dan cibiran di dunia maya.

Ia menjadikan ketabahan Rasulullah SAW ketika menghadapi berbagai hinaan dan perlakuan buruk sebagai contoh bagi generasi muda. Menurutnya, kebencian tidak harus dibalas dengan kebencian.

“Kalau ada teman yang membully atau ada yang nyinyir di media sosial, jangan dibalas dengan amarah yang sama. Tunjukkan bahwa akhlak kita lebih tinggi dari kebencian mereka,” katanya.

Syarifudin juga menekankan pentingnya kejujuran dan integritas sebagai modal menghadapi masa depan. Ia mengingatkan para siswa bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh kepercayaan yang dibangun melalui karakter.

Ia mengangkat sosok Muhammad SAW yang dikenal dengan gelar Al-Amin atau orang yang dapat dipercaya.

“Mulailah dari sekarang. Mengerjakan PR jangan menyontek, ujian jangan curang, dan jujurlah kepada orang tua. Integritas dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku di seluruh dunia dan di hadapan Allah SWT,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Buton itu juga menyentuh persoalan yang dianggap dekat dengan kehidupan remaja, yakni hubungan pertemanan dan cinta.

Ia mengajak para pelajar untuk tidak menjadikan media sosial atau tren sebagai ukuran dalam membangun hubungan. Menurutnya, cinta yang sehat harus dibangun di atas karakter, penghargaan, tanggung jawab, dan upaya menjaga kehormatan masing-masing.

“Kalau kamu ingin dicintai oleh orang yang baik, jadilah orang yang baik dulu. Jangan sibuk mencari pangeran atau putri berkuda putih, tetapi sibuklah membangun diri menjadi pribadi yang layak diandalkan,” pesannya.

Syarifudin juga mengingatkan para siswa agar tidak mudah terjebak dalam hubungan yang membuat mereka kehilangan nilai-nilai agama, merusak masa depan, atau merasa tidak berharga.

Ia menutup pesannya dengan mengajak generasi muda mencintai dan menghargai diri sebagai ciptaan Allah SWT.

Menurutnya, harga diri seorang anak muda tidak ditentukan oleh siapa yang menyukai atau menjalin hubungan dengannya, melainkan oleh nilai dirinya sebagai hamba Allah.

Melalui tausiyah tersebut, Syarifudin berharap momentum Maulid Nabi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah tantangan era digital.