JAKARTA, TAKAWA.ID - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), rupiah di pasar spot menembus level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah dalam beberapa pekan terakhir sempat menguat dan bertahan di bawah level tersebut.

Rupiah diperdagangkan dalam rentang Rp18.063 hingga Rp18.118 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Senin (27/7/2026), yang berada di level Rp18.009 per dolar AS.

Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko kebijakan global dan domestik. Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

“Dua pengunduran diri pejabat senior tersebut menjadi sorotan atas risiko politik dan kebijakan,” tulis Chan dalam risetnya, dikutip dari idnfinancials.com, Selasa (28/7/2026).

Menurut Chan, kenaikan imbal hasil domestik memang telah memberikan daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia. Namun, keberlanjutan arus modal asing tersebut masih menjadi tanda tanya di tengah ketidakpastian yang meningkat.

“Meski kenaikan imbal hasil domestik telah membantu menarik arus masuk bersih investasi asing ke pasar obligasi, keberlanjutan arus dana tersebut masih dipertanyakan,” ujar dia.

Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan dan situasi geopolitik.

“Kami memandang tekanan dari faktor kebijakan dan kondisi geopolitik akan terus membebani nilai tukar rupiah,” imbuh Chan.

Sementara itu, konsensus pasar memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.850 per dolar AS pada kuartal III 2026. Adapun hingga akhir tahun, rupiah diproyeksikan berada di level Rp17.728 per dolar AS.

Proyeksi tersebut mempertimbangkan potensi meredanya lonjakan harga minyak mentah dunia yang sebelumnya turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan risiko global dan domestik. Ketidakpastian kebijakan, kondisi geopolitik, serta arah arus modal asing diperkirakan menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan pergerakan rupiah ke depan.